Akhirnya kami bisa menyelesaikan satu misi baru, Ekspedisi Situ Lembang. Perjalanan awalnya dijadwalkan pada tanggal 16 Mei 2011, namun karena alasan cuaca dan kesiapan fisik yang kurang maka perjalanan pun dibatalkan dan dilaksanakan sehari setelahnya yaitu hari selasa 17 Mei 2011. Markas besar PALAKS, Cileunyi menjadi awal pemberangkatan kami. Tepat pukul enam pagi kami berangkat menuju terminal Leuwi Panjang Kota Bandung, dan langsung berangkat lagi ke Ledeng dengan kendaraan umum (DAMRI), pijakan awal ekspedisi kami tidak dimulai dari sana tapi kami harus naik angkutan kota lagi dan akhirnya kami sampai di terminal parompong pada jam 10 tepat, dari sanalah kami berempat mulai berjalan. Jalanan tanah dan becek menjadi track kami pada hari itu, jelas jalanan yang berbeda dari yan kami temui setiap hari. Melewati tempat pariwisata Ciwangun Indah Camp, kami terus berjalan ke arah utara mengikuti aliran sungai yang melewati Curug 3 Leuwi 4. Kami mencari hulu dari aliran sungai tersebut. Hutan yang belum terjamah menjadi pemandangan tersendiri, sungguh pemandangan yang jarang kami dapat. Puji Tuhan,,
Ditengah perjalanan banyak persimpangan yang cukup membingungkan, tapi kami cari yang paling baru dilewati orang dan alhamdulillah, kami tidak menemukan kesulitan yang berarti diperjalanan ini. Jika teman-teman kelak melewati jalur ini, teman-teman akan melewati curug Cilayung yang pada hari kemarin merupakan tempat yang paling penuh ALIBI (ngiri urg,,). Kami istirahat sebentar di curug ini, sambil makan cemilan. Kami pun menyempatkan ngobrol dengan beberapa orang yang kami temui disana, sekedar untuk menanyakan jalur yang harus lalui nanti (sambil lirik2 ke arah pengunjung ALIBIONIS tadi,,hahahah). Kami pun melanjutkan perjalanan, petunjuk dari orang kami temui tadi ambil ke kiri dan kembali ke kanan dari Curug itu. Pada jam 12.05 kami putuskan untuk berhenti berjalan, karena sudah masuk waktu dzuhur dan kami pun memasak. Pertimbangan lain yaitu kami sedang berada di dekat mata air, itu memudahkan kami dalam mempersiapkan makanan. Kompor yang tidak memadai menjadi kendala bagi kami. Rencana awal, kami hanya akan beristirahat sekitar satu jam untuk ISOMA malah kami habiskan waktu dua jam. Kompor kami, kompor dengan bahan bakar spirtus jadi lumayan lambat. Kalau punya kompor gas, mending pake itu deh,,. Kami sempat ambil beberapa gambar disana, sebagai bukti bahwa kami sempat masak di tengah hutan, bahkan video juga. (boleh di cek lah). Sayang, waktu yang luang itu terbuang percuma, karena hasil pasakan kami kurang memuaskan. Nasi masih rada mentah bagian atasnya. Tapi apa boleh buat, daripada gak ada konsumsi sama sekali mending konsumsi yang ada za, toh jarang ini makan yang begituan. Kayanya kami memang harus kembali belajar memasak.
Jam 2 tepat kami selesai packing, dan kembali menapaki jalanan agar
segera sampai ke Situ Lembang. Kami pun kembali menemukan aliran sungai yang sempat hilang dari pandangan kami. Jadi inget film perang yang menceritakan perjuangan viet kong. Jalanan becek di tengah hutan disampingnya ada aliran sungai, mirip pisannnn. Sekitar satu jam kami berjalan. Akhirnya kami bertemu dengan beberapa orang bapa2 yang sedang memperbaiki Paralon atau kata orang sunda mah talang cai untuk ke perumahan warga. Kami pun menanyakan jalur yang harus kami lewati untuk sampai ke Situ Lembang. Kata bapak2 ini, kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan mengikuti aliran sungai karena di depan kami ada tebing yang besar yang tidak mungkin dilewati tanpa peralatan climbing. Mereka memberitahu kami agar menggunakan jalanan berbatu yang biasa dilewati kendaraan saja, agar lebih mudah dan kemungkinan tersesatnya sangat kecil. Maka kami pun menurut. Kami keluar dari jalanan hutan ke arah barat dari jalanan tadi. Sekitar satu kilo meter dari tempat kami bertemu dengan bapa pekerja keras tadi. Ternyata bapa2 tadi juga ngecamp di tengah hutan. Ada tenda besar yang bisa dipakai oleh kurang lebih 10 orang lah. Kirain warga sekitar situ jarang yang ngecamp, ternyata banyak juga yang suka ngecamp. Akhirnya kami pun menemukan jalanan yang dimaksudkan bapa2 tadi. Jalanan yang suka dipakai oleh Prajurit kopassus. Kami pun berhenti sejenak untuk melepas lelah, sekitar setengah jam. Kami kembali berjalan, sekarang kami ke utara lagi. Di hadapan kami terlihat, Gunung Tangkuban Perahu berdiri dengan gagahnya. Setelah kami berjalan sekitar satu KM, kami menemukan tulisan “ ANDA RAGU-RAGU, KEMBALI SEKARANG JUGA”. Deg, wah apaan nih,?? Ternyata kami sudah memasuki kawasan latihan militer yang dimaksud oleh warga tadi. Kami mulai bingung, antar melanjutkan perjalanan dan kembali. Waktu sudah menunjukan pukul setengah empat sore. Jika kami melanjutkan perjalanan, otomatis harus ngecamp sedangkan kami tidak membawa tenda. Tak lama berselang, kami bertemu dengan warga yang sedang mencari rumput untuk hewan ternak mereka. Kami pun menanyakan Situ Lembang dan arah menuju kesana. Dia pun menunjukannya, sayangnya di Situ lembang sedang ada latihan gabungan kopassus. Bahkan tadi pun terdengar beberapa tembakan, kata warga tersebut. Kami pun menghela nafas, kemungkinan besar perjalanan harus berhenti sampai di tempat ini. Dengan mempertimbangkan segala kemungkinan dan resiko kami pun sepakat harus rela menghentikan perjalanan di tempat tersebut. Daripada kena peluru nyasar kan?? Nanti ada di surat kabar “ EMPAT ORANG ANGGOTA PALAKS MATI MENGENASKAN, DENGAN PELURU BERSARANG DI DADA” kan ngeri juga. Kebetulan warga yang mencari rumput tadi membawa mobil, dan kami pun ikut turun bersama dia dan beberapa orang rekannya.
segera sampai ke Situ Lembang. Kami pun kembali menemukan aliran sungai yang sempat hilang dari pandangan kami. Jadi inget film perang yang menceritakan perjuangan viet kong. Jalanan becek di tengah hutan disampingnya ada aliran sungai, mirip pisannnn. Sekitar satu jam kami berjalan. Akhirnya kami bertemu dengan beberapa orang bapa2 yang sedang memperbaiki Paralon atau kata orang sunda mah talang cai untuk ke perumahan warga. Kami pun menanyakan jalur yang harus kami lewati untuk sampai ke Situ Lembang. Kata bapak2 ini, kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan mengikuti aliran sungai karena di depan kami ada tebing yang besar yang tidak mungkin dilewati tanpa peralatan climbing. Mereka memberitahu kami agar menggunakan jalanan berbatu yang biasa dilewati kendaraan saja, agar lebih mudah dan kemungkinan tersesatnya sangat kecil. Maka kami pun menurut. Kami keluar dari jalanan hutan ke arah barat dari jalanan tadi. Sekitar satu kilo meter dari tempat kami bertemu dengan bapa pekerja keras tadi. Ternyata bapa2 tadi juga ngecamp di tengah hutan. Ada tenda besar yang bisa dipakai oleh kurang lebih 10 orang lah. Kirain warga sekitar situ jarang yang ngecamp, ternyata banyak juga yang suka ngecamp. Akhirnya kami pun menemukan jalanan yang dimaksudkan bapa2 tadi. Jalanan yang suka dipakai oleh Prajurit kopassus. Kami pun berhenti sejenak untuk melepas lelah, sekitar setengah jam. Kami kembali berjalan, sekarang kami ke utara lagi. Di hadapan kami terlihat, Gunung Tangkuban Perahu berdiri dengan gagahnya. Setelah kami berjalan sekitar satu KM, kami menemukan tulisan “ ANDA RAGU-RAGU, KEMBALI SEKARANG JUGA”. Deg, wah apaan nih,?? Ternyata kami sudah memasuki kawasan latihan militer yang dimaksud oleh warga tadi. Kami mulai bingung, antar melanjutkan perjalanan dan kembali. Waktu sudah menunjukan pukul setengah empat sore. Jika kami melanjutkan perjalanan, otomatis harus ngecamp sedangkan kami tidak membawa tenda. Tak lama berselang, kami bertemu dengan warga yang sedang mencari rumput untuk hewan ternak mereka. Kami pun menanyakan Situ Lembang dan arah menuju kesana. Dia pun menunjukannya, sayangnya di Situ lembang sedang ada latihan gabungan kopassus. Bahkan tadi pun terdengar beberapa tembakan, kata warga tersebut. Kami pun menghela nafas, kemungkinan besar perjalanan harus berhenti sampai di tempat ini. Dengan mempertimbangkan segala kemungkinan dan resiko kami pun sepakat harus rela menghentikan perjalanan di tempat tersebut. Daripada kena peluru nyasar kan?? Nanti ada di surat kabar “ EMPAT ORANG ANGGOTA PALAKS MATI MENGENASKAN, DENGAN PELURU BERSARANG DI DADA” kan ngeri juga. Kebetulan warga yang mencari rumput tadi membawa mobil, dan kami pun ikut turun bersama dia dan beberapa orang rekannya.




ko masih belum di update lagi perjalanannya?
BalasHapus